Nama : Rahmat Detazami
Kelas : 1 TA 02
NPM : 18314798
Sabai nan Aluih adalah sebuah kaba (prosa Minangkabau). Sabai nan Aluih diceritakan sebagai anak dari Rajo Babandiang dan Sadun Saribai. Yang memiliki 2 orang anak yakni Sabai nan Aluih dan Mangkutuak Alam. Kedua anak ini sangatlah berbeda sifatnya. Sabai anak gadis nan elok parangai dan rajin membantu orang tuanya,sedangkan Mungkutuak adalah anak yang pemalas yang menyususahkan orang tua saja.
Keelokan Sabai ini diketahui semua orang termasuk dari nagari sebelah, yang disana terdapat seorang orang kaya bernama Rajo nan Panjang dan juga sahabat dari ayahnya Sabai. Mendengar keelokan Sabai dia langsung mengutus pasukan nya untuk melamar Sabai, karena perbedaan usia dan beberapa hal dalam adat yang kurang mendukung, ayah Sabai, Rajo Babandiang, menolak pinangan dari Rajo nan Panjang. Sekembalinya pasukan Rajo nan Panjang, mereka langsung mengabarkan penolakan lamaran tersebut, namun Rajo nan Panjang tidak kehilangan akal untuk meminang Sabai. Ia beritikad untuk melamar Sabai sendiri ke rumahnya, cara ini tidak lazim (secara adat untuk melamar seorang gadis di Minang melalui mamak ). Namun ayah Sabai tetap menolak lamaran Rajo nan Panjang dengan halus, dan mengajak dia berunding diluar rumah (berkelahi). Setelah kapan dan dimana waktu pertarungan di sepakati. pada saat sebelum pertarungan Sabai mimpi kejadian buruk, namun ayahnya tetap menenangkan dia dan menyampaikan semua akan baik-baik saja. Dan pada saat pertarungan pun datang, ayah Sabai membawa seorang pengawalnya untuk berjaga-jaga sesuatu hal yang tidak diinginkan.
Rajo nan Panjang pun dengan cara licik datang lebih awal, dan nemempatkan dua orang pengawalnya bersembunyi disemak, mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan. karena Rajo nan panjang juga cukup menyegani kemampuan Rajo Babandiang. Dan pertarungan pun sangat sengit diakhir dengan tertancanya keris Rajo Babandiang ke tubuh Rajo nan Panjang, karena hampir kalah Rajo nan Panjang pun memerintahkan pengawalnya menembak Rajo Babandiang dan ia pun tewas, pada saaat itu ada seseorang yang melihat kejadian itu dan melaporkannya ke keluarga Sabai. Sabai pun marah dan mengajak adiaknya untuk mencari Rajo nan Panjang, adiknya tidak mau ikut karena takut mati.
Sabai membawa senapan dan ia pergi dengan cepat ke area pertarungan ayahnya, namun dijalan ia bertemu dengan Rajo nan Panjang, disana Rajo nan Panjang bercerita telah membunuh ayah Sabai dan terus menggoda Sabai. Sabai yang marah akirnya menembak Rajo nan Panjang tepat didadanya. Dan ia pun akhirnya meninggal. Sabai langsung lanjut ke tempat ayahnya dan langsung membawa mayat ayahnya untuk dimakamkan. Karena keberanian Sabai ini, Sabai nan Aluih masyarakat Minang meabadikan ceritanya menjadi kaba.
Nilai-nilai yang dapat diambil
- Kesenangan :
Mendapat informasi buah cerita perjuangan anak untuk membela kebenaran, dan menuntut balas kematian ayahnya.
- Informasi :
Menjadi tau bahwa meminang gadis diminang itu boleh langsung karena ada adat yang harus dipatuhi, meming gadis harus melalui mamak. Juga mengetahui bahwa di dearah Minang semuanya dalam hubungan adat memakai kata-kata kieh, atau kata-kata kiasan untuk berbicara supaya tidak menyingung perasaan si lawan bicara secara langsung.
- Keseimbangan wawasan :
Seorang ayah yang biasanya bekerja demi membiayai hidup anak isterinya, rela bertaruh nyawa nya demi harkat dan martabat kelaurganya. Dan juga anak perempuan yang biasanya hanya didalam rumah dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga demi menuntut kematian ayahnya berani melawan seorang saudagar kaya dengan senapan
- Warisan Budaya :
Masyarakat sangat menjunjung tinggi adat, terlihat dari cara meminang seorang gadis, walupun dalam cerita Sabai nan Aluih, adat tersebut dilanggar dan pada akhirnya timbulah perkelahihan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar